Langsung ke konten utama

KLB DBD, Masih Anak Tiri

JOMBANG-Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang sudah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, status tersebut 'seolah-olah' masih dianak tirikan oleh beberapa kalangan pejabat daerah setempat, baik oleh legeslatif maupun eksekutif.

Dianak tirikan dalam arti, bukti ketidak ada responsifitas eksekutif dan legeslatif dalam keseriusan menagani KLB DBD yang menewaskan 19 orang hingga kemarin (20/2) itu, di lontarkan oleh kalangan Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM) yang ada di Jombang.

Aan Anshori, Direktur LSM Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LInK) ini menilai, bahwa pihaknya masih pesimis jika KLB DBD di Jombang bisa secepatnya teratasi. Sebab, pihak eksekutif maupun legeslatif masih terlihat belum berbuat banyak, terkait puluhan korban nyawa yang melayang akibat serangan nyamuk mematikan itu.

Dia mengatakan, status KLB DBD yang ditetapkan oleh pemerintah daerah itu terkesan simbolik. Lantaran, status KLB tersebut tidak diimbangi dengan sebuah kinerja yang kongkrit. Hal ini terlihat, lanjut Aan, dari kunjungan kerja yang dilakukan beberapa anggota dewan ke luar pulau itu, tidak ada satupun yang membahas kepentingan masyarakat banyak terkait penanganan status KLB DBD itu.

Kalau wakil rakyat itu serius membahas penanganan status KLB, jelas agenda itu diikutkan. Masak semua anggota dewan baik komisi A-D tidak ada ditempat semua, mana komitmen anggota dewan terhadap kepentingan rakyat,?,” keluhnya.

Dia menambahkan, hearing yang dilakukan pihaknya dengan komisi D terkait status KLB DBD yang terjadi di Jombang tersebut, sampai hari ini belum ada respon dari kalangan anggota dewan. Pembentukan perda DBD yang diangendakan oleh wakil rakyat itu sampai hari ini belum dilaksanakan.

Sampai empat hari ini semua anggota dewan tidak ada ditempat, baik komisi yang membidangi hukum maupun kesra, semuanya keluar daerah. Ada yang ke Batam, Bali, Jakarta, dan kekota-kota lainnya. Tapi satu hal yang saya sayangkan dari kungker dewan itu. Penanganan KLB DBD tidak masuk dalam agenda mereka,” rinci Aan.

Di singgung soal pembuatan perda DBD, Ketua Komisi A Joko Triono, mengatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan dari Komisi D terkait pembantukan perda DBD itu. Dia mengatakan, jika sampai hari ini pihaknya belum menerima laporan hasil hearing yang dilakukan oleh komisi yang membidangi kesehatan itu dengan sejumlah LSM beberapa waktu lalu.

Komisi A belum menerima laporan dari komisi D kalau ada pembentukan perda DBD. Kalaupun ada, kita pasti bahas,” kelit ketua komisi yang membidangi hukum dan pemerintahan itu.(ami).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korban Ryan Tembus 11 Orang

Polisi akan menjerat Ryan dengan pasal hukuman mati. JOMBANG -- Halaman belakang rumah Very Idam Henyansyah (34 tahun) tak ubahnya kuburan massal. Sampai dengan Senin (28/7), 10 jenazah ditemukan di sana. Dengan demikian, korban pembunuhan yang dilakukan Ryan telah 11 orang. Bertambahnya jumlah korban pria gemulai itu diketahui setelah dilakukan penggalian lanjutan di belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kec Tembelang, Kab Jombang, Jawa Timur. Kemarin, polisi menemukan enam jenazah. Pada penggalian sebelumnya, polisi menemukan empat jenazah. Keberadaan enam mayat itu diketahui saat Ryan diperiksa di Markas Polda Jawa Timur. Ryan lalu digiring untuk menunjukkan lokasinya. Penggalian pun dilakukan delapan jam, mulai pukul 10.00 WIB. Ryan berada di lokasi dengan tangan dan kaki diborgol. Kepada polisi, kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Herman Sumawireja, Ryan mengatakan masih ada lima mayat. ''Tapi, kami menemukan enam,'' katanya saat menyaksikan penggalian. Mayat-mayat itu ...

Jelang Eksekusi Mati, Sumiarsih Isi Waktu Latih Napi Bikin Selimut

Kendati hendak di eksekusi mati. Sumiarsih , 65 , otak pembunuhan berencana lima anggota keluarga Letkol Marinir Purwanto di Surabaya, 20 tahun silam, nampak pasrah menghadapi rencana eksekusi Kejagung bulan ini. Bahkan sesekali ia terlihat tegar bersama rekan-rekannya di LP Porong, dengan melakukan kegiatan membuat selimut dari tempat tisu. Dengan mengenakan seragam Napi (narapidana) Lapas Wanita Malang warna biru tua, mata Sumiarsih tampak sayu. Demikian pula wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput juga terlihat lelah dan sayup. Namun, Mbah Sih, panggilan akrab- Sumiarsih di antara sesama napi, tetap ingin tampil ramah. "Saya habis bekerja di Bimpas (Bimbingan Pemasyarakatan). Bersama rekan-rekan membuat tempat tisu ini," kata Sumiarsih sambil menunjukkan beberapa hasil karyanya di ruang kantor Entin Martini, kepala Lapas Wanita Malang, yang berlokasi di kawasan Kebonsari, Sukun, itu. Sudah tiga bulan ini Sumiarsih aktif membimbing para wanita penghuni lapas membua...

Ledakan Tangis Pecah Digang Kecil

Dua Korban Ryan, Berangkat Ke Pusara JOMBANG – Ledakan tangis histeris dari dua tempat korban Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), yakni Zainul Abidin alias Zaki (21) dan Agutinus Fitri Setiawan alias Wawan (28), muncul dari rumah duka, di gang kecil, saat mengiringi pemakaman dua jenazah menuju pusara, kemarin. Keberadaan dua rumah duka korban Ryan ini, yang sama-sama mempunyai ukuran 36 ini, berubah seketika saat prosesi peyerahan jenazah. Pihak petugas yang ikut mengawal jenazah pun sempat dibuat repot saat menurunkan jenazah dari mobil, lantaran kelurga korban sudah tak kuasa menahan tangis sembari menarik peti mati. Beberapa pelayatpun tercengang berjajar, di antara gang sempit yang hanya bisa di lalui motor itu. Meski deretan kursi sudah sejak pagi disiapkan oleh pihak perangkat desa yang ikut membantu proses pemakaman kedua jenazah. Namun, setidaknya gang sempit itu menjadi satu saksi tersendiri dari pemakaman kedua korban sang pria gemulai asal Maijo itu. Jenazah Zainul Abidi...