Berlindung Diketiak Pejabat yang 'Berdarah' Bak berlindung di ketiak pejabat yang berdarah, saat mata dunia tercoreng melihat puluhan orang tewas mengenaskan diantara kebutuhan perut dan dambaa'an kesejahteraan. Deritanya, perjuangannya, tangis dan jerit hatinya, seperti memecah besi yang kokoh. Tak mengenal usia dan gender. Tua dan muda, lelaki dan perempuan. Kanak-kanak dan dewasa. Kakek-nenek. Semua menengadah menatap angkasa sembari berharap, kapan kesejahteraan mereka dapat dipenuhi Negara?. Tregedi zakat maut 15 September 2008 di Pasuruan. Menjadi saksi ribuan orang yang sebagian besar perempuan, berdesak-desakan menanti giliran mendapatkan secuil harapan. Cuaca Panas menyengat di bulan puasa, tetap tak menciutkan rasa haus dan dahaga di kerongkongan. Peluh bercucuran. Di pengujung hari, 21 orang perempuan tewas, hanya untuk mendapatkan uang zakat Rp 30 ribu. Bukan hanya itu, di belahan lain di negeri kita Indonesia, masih banya orang-orang berdesak-desakan. Menahan ...
Diantara Panjangnya Nafas Brantas