Langsung ke konten utama

Dilema di Tengah Dugaan Pungli dan Harapan Potong Kompas (2 Habis)

Buntut Kematian Akibat DBD

Mencuatnya dugaan praktik pungli kepada masyarakat saat pelaksanaan fogging di Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Jombang. Beberapa warga yang rumahnya dilakukan pengasapan ternyata ditarik biaya Rp 6 ribu.

Menurut Kepala Desa Kedungbetik, Mustahjuddin, inisiatif warga untuk meminta fogging ini menyusul ditemukannya 13 kasus DBD (demam berdarah dengue) positif di desa setempat.

“Agar warga tak panik, kami menggelar fogging meski harus dengan biaya sendiri,’’ terang Mustahjuddin.

Terkait keresahan warga kian meluasnya serangan DBD, hingga sejauh ini Dinkes Jombang baru melakukan fogging di empat titik yang tersebar di beberapa kecamatan. Namun begitu, dalam pekan ini pihak dinkes menargetkan akan melakukan pengasapan pada 11 titik di beberapa kecamatan.

‘’Sudah mulai kami lakukan fogging gratis,’’ kata Endang juru bicara Dinkes Jombang, seakan menepis dugaan praktik pungli yang terjadi di Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben.

Untuk keperluan itu, pihaknya juga telah mengambil dana untuk fogging gratis dari DASK (daftar anggaran satuan kerja) Dinkes Jombang sebesar Rp1,1 juta untuk setiap titik fogging.

‘’Jatah kita untuk 100 titik fogging gratis. Saat ini kami juga mengajukan anggaran tambahan,’’ terangnya tanpa menyebut jumlah anggaran tambahan yang dimaksud karena masih dalam telaah staf.

Fogging gratis ini, menurut dia, akan diberlakukan terhadap daerah yang menurut hasil PE (penyelidikan epidemologi) terdapat kasus positif DBD. ‘’Hanya berdasarkan PE itu yang kami berikan fogging gratis,’’ tandasnya..

Sementara, sejumlah elemen masyarakat di Jombang mulai tak tahan dengan lambannya kinerja dinkes setempat dalam menangani kasus DBD.

Selain desakan untuk segera merealisasikan SK Bupati terkait KLB (kejadian luar biasa), mereka juga telah mengambil langkah untuk menembus sulitnya proses pencairan dana penanganan DBD dalam status emergency itu.

Aan Anshori, misalnya. Direktur LSM Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LInK) ini, mengatakan telah melayangkan surat kepada Menteri Kesehatan Fadilah Supari, mendesak pemerintah pusat untuk mengambil alih penanganan DBD di Kabupaten Jombang.

‘’Kalau masyarakat dipaksa menunggu kinerja eksekutif dan legislatif masalah tak akan selesai. Lebih tepat, Menkes langsung yang menginruksikan penanganan DBD ini,’’ tegas Aan.

Permintaan pengambilalihan penanganan wabah DBD ini lanjut Aan, merujuk pada Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan PP 40/1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. Apalagi, imbuh dia, pihak pemerintah kabupaten dalam hal ini Bupati maupun DPRD Jombang, sangat lamban dan kurang tanggap dalam menyikapi hal tersebut.

‘’Terbukti sampai saat ini, belum ada langkah-langkah terpadu dan terpublikasikan untuk menangani persoalan ini. Kami khawatir korban akan semakin banyak jika tidak ada penanganan secara sistematis,’’ paparnya, sembari berharap langkah ‘potong kompas’ yang dilakukannya itu segera mendapat respon dari Menkes Fadilah Supari. (Amer Syarifuddin)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korban Ryan Tembus 11 Orang

Polisi akan menjerat Ryan dengan pasal hukuman mati. JOMBANG -- Halaman belakang rumah Very Idam Henyansyah (34 tahun) tak ubahnya kuburan massal. Sampai dengan Senin (28/7), 10 jenazah ditemukan di sana. Dengan demikian, korban pembunuhan yang dilakukan Ryan telah 11 orang. Bertambahnya jumlah korban pria gemulai itu diketahui setelah dilakukan penggalian lanjutan di belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kec Tembelang, Kab Jombang, Jawa Timur. Kemarin, polisi menemukan enam jenazah. Pada penggalian sebelumnya, polisi menemukan empat jenazah. Keberadaan enam mayat itu diketahui saat Ryan diperiksa di Markas Polda Jawa Timur. Ryan lalu digiring untuk menunjukkan lokasinya. Penggalian pun dilakukan delapan jam, mulai pukul 10.00 WIB. Ryan berada di lokasi dengan tangan dan kaki diborgol. Kepada polisi, kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Herman Sumawireja, Ryan mengatakan masih ada lima mayat. ''Tapi, kami menemukan enam,'' katanya saat menyaksikan penggalian. Mayat-mayat itu ...

Jelang Eksekusi Mati, Sumiarsih Isi Waktu Latih Napi Bikin Selimut

Kendati hendak di eksekusi mati. Sumiarsih , 65 , otak pembunuhan berencana lima anggota keluarga Letkol Marinir Purwanto di Surabaya, 20 tahun silam, nampak pasrah menghadapi rencana eksekusi Kejagung bulan ini. Bahkan sesekali ia terlihat tegar bersama rekan-rekannya di LP Porong, dengan melakukan kegiatan membuat selimut dari tempat tisu. Dengan mengenakan seragam Napi (narapidana) Lapas Wanita Malang warna biru tua, mata Sumiarsih tampak sayu. Demikian pula wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput juga terlihat lelah dan sayup. Namun, Mbah Sih, panggilan akrab- Sumiarsih di antara sesama napi, tetap ingin tampil ramah. "Saya habis bekerja di Bimpas (Bimbingan Pemasyarakatan). Bersama rekan-rekan membuat tempat tisu ini," kata Sumiarsih sambil menunjukkan beberapa hasil karyanya di ruang kantor Entin Martini, kepala Lapas Wanita Malang, yang berlokasi di kawasan Kebonsari, Sukun, itu. Sudah tiga bulan ini Sumiarsih aktif membimbing para wanita penghuni lapas membua...

Ledakan Tangis Pecah Digang Kecil

Dua Korban Ryan, Berangkat Ke Pusara JOMBANG – Ledakan tangis histeris dari dua tempat korban Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), yakni Zainul Abidin alias Zaki (21) dan Agutinus Fitri Setiawan alias Wawan (28), muncul dari rumah duka, di gang kecil, saat mengiringi pemakaman dua jenazah menuju pusara, kemarin. Keberadaan dua rumah duka korban Ryan ini, yang sama-sama mempunyai ukuran 36 ini, berubah seketika saat prosesi peyerahan jenazah. Pihak petugas yang ikut mengawal jenazah pun sempat dibuat repot saat menurunkan jenazah dari mobil, lantaran kelurga korban sudah tak kuasa menahan tangis sembari menarik peti mati. Beberapa pelayatpun tercengang berjajar, di antara gang sempit yang hanya bisa di lalui motor itu. Meski deretan kursi sudah sejak pagi disiapkan oleh pihak perangkat desa yang ikut membantu proses pemakaman kedua jenazah. Namun, setidaknya gang sempit itu menjadi satu saksi tersendiri dari pemakaman kedua korban sang pria gemulai asal Maijo itu. Jenazah Zainul Abidi...