JOMBANG-Menguatnya sinyalemen kekurang akuratan diagnosis dokter dalam penanganan pasien DBD memantik reaksi keras kalangan DPRD Jombang. Mereka menilai akibat tidak validnya diagnosis awal tersebut mengakibatkan jumlah pasien meninggal dunia akibat gigitan nyamuk Aides Aegypti itu tidak terbendung lagi. Upaya yang dilakukan pihak Dinkes dan Rumah Sakit dinilai masih jauh dari maksimal.
Dewan juga mendesak agar dokter yang menangani pasien (Demam Berdarah Dengue) DBD segera dievaluasi, mengingat dari hasil pantauan dewan, saat ini rata-rata pasien yang meninggal dunia dikarenakan terdeteksi sudah dalam kondisi kritis. ”Tahun lalu kan sudah dilakukan pelatihan terhadap dokter tentang penanganan DBD, kenapa hal ini harus terulang lagi. Pelayanan prima yang selama ini didengungkan RS Jombang jangan cuma jadi lips service,” sesal HM Fadholi anggota komisi D DPRD Jombang.
Politisi Partai Golkar ini juga mendesak agar IDI Jombang juga segera bertindak sehingga dugaan salah diagnosis bisa diminimalisir. “IDI sebagai induk organisasi dokter juga harus bersikap dan mengambil langkah cepat agar korban tidak bertambah lagi,” tandasnya.
Sementara terkait desakan dari berbagai elemen masyarakat di Jombang yang meminta penggratisan biaya bagi penderita DBD, Fadholi mendesak agar Bupati segera membuat Peraturan Bupati yang mengatur hal tersebut. “Kalau perda butuh proses lama, sementara saat ini situasinya kan emergency (darurat), sehingga cukup dengan perbup saja dulu,” ujarnya seraya berjanji akan mempercepat pembuatan Perda penanganan DBD tersebut.
Sayangnya Dr Budi Nugroho, Wakil Direktur RSD Jombang saat dikonfirmasi enggan memberikan komentar terkait dugaan kesalahan diagnosis pasien DBD yang ditangani oleh pihak RSD Jombang. Budi mengaku jika dia hanya berwenang dalam masalah managemen, sementara untuk urusan penanganan medis dia menyarakan agar langsung kepada Kasi pelayanan Dr Budiono. “Kalau masalah medis langsung saja ke pak Budiono, besok sekalian datanya,” ungkap Budi seraya keluar ruangan.
Seperti diberitakan sebelumnya, meski sudah ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di Jombang. Jumlah korban yang meninggal pun masih terus meningkat, dalam kurun waktu januari hingga pertengahan februari ini tercatat sudah 16 nyawa terenggut. Sementara jumlah pasien yang positif menderita DBD dan ditangani RSD Jombang mencapai 172 orang.
Terakhir minggu (10/02) kemarin, seorang bocah bernama Iclasul Amal 8 tahun meninggal akibat DBD setelah dirawat selama 6 hari di RSD Jombang, Syaifuddin (ayah korban) mengaku jika meninggalnya anaknya tersebut diduga karena kelalaian pihak RS yang terlambat mendeteksi DBD yang diderita anaknya,” Dari lima kali uji lab, empat kali dinyatakan negatif, baru yang kelima dinyatakan positif DBD, padahal kondisinya sudah drop, sehingga tidak terolong lagi,”ungkap Syaifuddin.(amer syarifuddin)
Komentar
Posting Komentar
Mo Komentar Disini Bos,,,