Langsung ke konten utama

Camat Diduga ‘Sunat’ ADD

  • Tiap desa disinyalir mendapat potongan Rp 1,8 juta

JOMBANG-Janji Bupati, Suyanto, yang menjamin bakal tidak ada pemotongan dalam penyaluran Alokasi Dana Desa (ADD) bagi 321 desa yang ada di Jombang, kini 'meleset'. Pasalnya, di Kecamatan Mojoangung, pihak Camat malah melakukan pemotongan sebesar 1,8 juta bagi tiap-tiap desa. Dengan dalih administrasi dan pembuatan Surat Pertangung Jawaban (SPJ).

Rahmad Jaya, Kepala Desa (Kades) Kauman, kec Mojoangung, mengatakan, bahwa program ADD tahap pertama yang mencapai Rp 60-80 juta untuk masing-masing desa itu, diduga telah dipotong alias disunat oleh Imam Sudjiono, Camat setempat.

Dikatakan dia, pemotongan yang dilakukan Camat sebesar Rp 1,8 juta perdesa itu, dilaksanakan di 17 desa dari 18 desa yang ada di Mojoagung. Satu desa yang tidak dipotong itu adalah Desa Kauman.

Khusus untuk Desa Kauman, pemotongan itu tak berlaku. saya memang sengaja menolak, karena menurut saya camat sudah kelewatan,” ujar Yaya, Panggilan akrabnya.

Dia juga mengatakan, jika pemotongan ADD itu sepertinya sudah disusun rapi oleh Camat. Sebelum terjadi pemotongan, seluruh Kades setempat diminta Camat untuk berkumpul di Desa Mancilan. Dari situlah keputusan untuk melakukan pemotongan dana ADD Rp 1,8 juta perdesa itu mulai di jalankan.

Dikatakan dia lagi, selain pemotongan dana ADD, pihak camat juga melakukan intimidasi terhadap 16 Kades setempat. Hal itu dilakukan camat, lantaran nama baik Camat Mojoangung itu takut tercemar.

Aksi yang dilakukan Camat Mojoagung ini. tak lain adalah upaya pemerasan yang sangat merugikan dan menyengsarakan warga,” keluh Yaya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kades setempat yang tidak mau dipublikasikan namanya, lantaran takut di intimidasi Camat. Kata dia, soal pemotongan ADD di Kecamatan Mojoagung, untuk pemotongan pembuatan proposal sebesar Rp 200rb perdesa, yang dilakukan camat dirasakan wajar-wajar saja, dan tak akan diribut-kan. Namun, dengan adanya pemotongan hingga Rp 1,8 juta perdesa, menurutnya itu sudah sangat keterlaluan dan patut dikecam.

Ada sebagian Kedes yang mengaku terpaksa memberikan dana tersebut, karena merasa tak enak ke pihak kecamatan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika pemotongan yang dilakukan oleh Camat, adalah untuk membantu Kades melakukan penyusunan SPJ. Lantaran seluruh Kades yang ada di wilayah kecamatan Mojogung rata-rata masih beru dan buta dalam membuat SPJ.

Sebenarnya ini mungkin sengaja dipraktekkan sang Camat, karena melihat seluruh Kades yang ada di Mojoagung tergolong buta dengan mekanisme pembuatan SPJ itu sendiri,” ketusnya.

Hingga berita ini diturunkan Camat Mojoangung sendiri belum bisa dikonfirmasi. Terkait penyunata ADD tersebut.(ami)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korban Ryan Tembus 11 Orang

Polisi akan menjerat Ryan dengan pasal hukuman mati. JOMBANG -- Halaman belakang rumah Very Idam Henyansyah (34 tahun) tak ubahnya kuburan massal. Sampai dengan Senin (28/7), 10 jenazah ditemukan di sana. Dengan demikian, korban pembunuhan yang dilakukan Ryan telah 11 orang. Bertambahnya jumlah korban pria gemulai itu diketahui setelah dilakukan penggalian lanjutan di belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kec Tembelang, Kab Jombang, Jawa Timur. Kemarin, polisi menemukan enam jenazah. Pada penggalian sebelumnya, polisi menemukan empat jenazah. Keberadaan enam mayat itu diketahui saat Ryan diperiksa di Markas Polda Jawa Timur. Ryan lalu digiring untuk menunjukkan lokasinya. Penggalian pun dilakukan delapan jam, mulai pukul 10.00 WIB. Ryan berada di lokasi dengan tangan dan kaki diborgol. Kepada polisi, kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Herman Sumawireja, Ryan mengatakan masih ada lima mayat. ''Tapi, kami menemukan enam,'' katanya saat menyaksikan penggalian. Mayat-mayat itu ...

Jelang Eksekusi Mati, Sumiarsih Isi Waktu Latih Napi Bikin Selimut

Kendati hendak di eksekusi mati. Sumiarsih , 65 , otak pembunuhan berencana lima anggota keluarga Letkol Marinir Purwanto di Surabaya, 20 tahun silam, nampak pasrah menghadapi rencana eksekusi Kejagung bulan ini. Bahkan sesekali ia terlihat tegar bersama rekan-rekannya di LP Porong, dengan melakukan kegiatan membuat selimut dari tempat tisu. Dengan mengenakan seragam Napi (narapidana) Lapas Wanita Malang warna biru tua, mata Sumiarsih tampak sayu. Demikian pula wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput juga terlihat lelah dan sayup. Namun, Mbah Sih, panggilan akrab- Sumiarsih di antara sesama napi, tetap ingin tampil ramah. "Saya habis bekerja di Bimpas (Bimbingan Pemasyarakatan). Bersama rekan-rekan membuat tempat tisu ini," kata Sumiarsih sambil menunjukkan beberapa hasil karyanya di ruang kantor Entin Martini, kepala Lapas Wanita Malang, yang berlokasi di kawasan Kebonsari, Sukun, itu. Sudah tiga bulan ini Sumiarsih aktif membimbing para wanita penghuni lapas membua...

Ledakan Tangis Pecah Digang Kecil

Dua Korban Ryan, Berangkat Ke Pusara JOMBANG – Ledakan tangis histeris dari dua tempat korban Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), yakni Zainul Abidin alias Zaki (21) dan Agutinus Fitri Setiawan alias Wawan (28), muncul dari rumah duka, di gang kecil, saat mengiringi pemakaman dua jenazah menuju pusara, kemarin. Keberadaan dua rumah duka korban Ryan ini, yang sama-sama mempunyai ukuran 36 ini, berubah seketika saat prosesi peyerahan jenazah. Pihak petugas yang ikut mengawal jenazah pun sempat dibuat repot saat menurunkan jenazah dari mobil, lantaran kelurga korban sudah tak kuasa menahan tangis sembari menarik peti mati. Beberapa pelayatpun tercengang berjajar, di antara gang sempit yang hanya bisa di lalui motor itu. Meski deretan kursi sudah sejak pagi disiapkan oleh pihak perangkat desa yang ikut membantu proses pemakaman kedua jenazah. Namun, setidaknya gang sempit itu menjadi satu saksi tersendiri dari pemakaman kedua korban sang pria gemulai asal Maijo itu. Jenazah Zainul Abidi...