Langsung ke konten utama

PCNU Ancam 'Pecat' Fungsionaris Mbalelo

Jika Terbukti Mendukung Salah Satu Calon

JOMBANG – Untuk kembali ke Khittah Nahdliyyah, jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, menegaskan bakal mencopot para fungsionarisnya yang diketahui terlibat politik praktis, khususnya dalam momentum Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) pada 23 Juli mendatang.

Tidak tanggung-tanggung, petisi untuk tetap menegakkan Khittah Nahdlhiyah itu dibuktikan melalui surat edaran yang diterbitkan oleh jajaran petinggi Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jombang, yang kemudian disebarkan ke semua tingkatan kepengurusan, baik majelis wakil cabang (MWC), pengurus anak cabang (PAC) maupun pengurus ranting (PR).

Isi petisi berisi 9 aitem hasil tausiyah PCNU Jombang, mengenai Pilkada Propinsi dan Kabupaten tersebut, menyatakan bahwa, siapa pun pengurus NU yang terlibat dalam Pilkada, harus mengundurkan diri dari jajaran kepengurusan dan dinyatakan non-aktif dari jabatan sampai dengan selesainya tahapan penyelenggaraan Pilkada.

Keputusan ini selanjutnya di pertegas saat Turba di MWC, dan Ranting di Rejoagung Ploso pada 21/6 malam. Serta Tebel, Bareng, pada minggu (22/6) malam, kemarin. Isi petisi yang ditandatangani oleh semua jajaran petinggi PCNU ini dimaksudkan untuk menjaga Khittah Nahdlhiyah, sebagaimana disebutkan dalam amanat Muktamar NU ke 27 Di Situbondo.

Menurut ketua Tanfidziyah PCNU KH Isrofil Amar, masa bakti 2007 – 2012 ini, mengatakan bahwa langkah ini dimaksudkan agar NU tetap terjaga netralitasnya dalam citra politik praktis. Pasalnya, NU adalag Ormas Agama yang sama sekali tidak ada hubungannnya dengan Politik Praktis.

“Dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo, NU menyatakan diri untuk kembali ke khittah, Jadi NU itu netral, itulah yang kita pegang,” ujar KH. Isrofil Amar, saat Turba di MWC dan Ranting se ex-Kawedanan Ploso, kemarin.

Senada Rois Syuriyah PCNU Jombang KH Abdul Nashir Fattah, mengatakan, untuk menjaga netralitas NU. Pihaknya sudah menerbitkan Surat Edaran tentang kewajiban mengundurkan diri bagi pengurus NU di semua jajaran kepengurusan saat menjadi Jurkam, Tim Sukses serta beberapa aktifitas lain yang terkait dengan Pilkada 23 juli.

“Walaupun misalnya cabup/cawabupnya dari keluarga sendiri, kita tetap harus netral.jadi saya harap surat edaran ini benar-benar ditanggapi oleh semua jajaran pengurus NU, tanpa terkecuali. Jika kedapatan ada yang terlibat kita akan non aktifkan dia dari kepengurusan,“ tegas KH. Abdul Nashir Fattah.

Dikatakan dia, selain melanggar Kithah Nahdlhiyah, menjadi Tim Sukses salah satu calon, dikhawatrikan akan menyita dan meninggalkan NU itu sendiri. Pasalnya, kata dia, tugas seorang pengurus NU juga tidak kalah banyak dibandingkan dengan tugas menjadi TS.

“Kalau tugasnya sama-sama banyak kenapa tidak memilih salah satu. Apa beratnya memilih salah satu ? justru kalau tidak mau memilih ini pasti ada apa-apanya,” cetus KH Abdul Nashir. (ami)
http://www.dutamasyarakat.com/rubrik.php?id=30888&kat=Daerah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korban Ryan Tembus 11 Orang

Polisi akan menjerat Ryan dengan pasal hukuman mati. JOMBANG -- Halaman belakang rumah Very Idam Henyansyah (34 tahun) tak ubahnya kuburan massal. Sampai dengan Senin (28/7), 10 jenazah ditemukan di sana. Dengan demikian, korban pembunuhan yang dilakukan Ryan telah 11 orang. Bertambahnya jumlah korban pria gemulai itu diketahui setelah dilakukan penggalian lanjutan di belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kec Tembelang, Kab Jombang, Jawa Timur. Kemarin, polisi menemukan enam jenazah. Pada penggalian sebelumnya, polisi menemukan empat jenazah. Keberadaan enam mayat itu diketahui saat Ryan diperiksa di Markas Polda Jawa Timur. Ryan lalu digiring untuk menunjukkan lokasinya. Penggalian pun dilakukan delapan jam, mulai pukul 10.00 WIB. Ryan berada di lokasi dengan tangan dan kaki diborgol. Kepada polisi, kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Herman Sumawireja, Ryan mengatakan masih ada lima mayat. ''Tapi, kami menemukan enam,'' katanya saat menyaksikan penggalian. Mayat-mayat itu ...

Jelang Eksekusi Mati, Sumiarsih Isi Waktu Latih Napi Bikin Selimut

Kendati hendak di eksekusi mati. Sumiarsih , 65 , otak pembunuhan berencana lima anggota keluarga Letkol Marinir Purwanto di Surabaya, 20 tahun silam, nampak pasrah menghadapi rencana eksekusi Kejagung bulan ini. Bahkan sesekali ia terlihat tegar bersama rekan-rekannya di LP Porong, dengan melakukan kegiatan membuat selimut dari tempat tisu. Dengan mengenakan seragam Napi (narapidana) Lapas Wanita Malang warna biru tua, mata Sumiarsih tampak sayu. Demikian pula wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput juga terlihat lelah dan sayup. Namun, Mbah Sih, panggilan akrab- Sumiarsih di antara sesama napi, tetap ingin tampil ramah. "Saya habis bekerja di Bimpas (Bimbingan Pemasyarakatan). Bersama rekan-rekan membuat tempat tisu ini," kata Sumiarsih sambil menunjukkan beberapa hasil karyanya di ruang kantor Entin Martini, kepala Lapas Wanita Malang, yang berlokasi di kawasan Kebonsari, Sukun, itu. Sudah tiga bulan ini Sumiarsih aktif membimbing para wanita penghuni lapas membua...

Ledakan Tangis Pecah Digang Kecil

Dua Korban Ryan, Berangkat Ke Pusara JOMBANG – Ledakan tangis histeris dari dua tempat korban Very Idam Henyansyah alias Ryan (30), yakni Zainul Abidin alias Zaki (21) dan Agutinus Fitri Setiawan alias Wawan (28), muncul dari rumah duka, di gang kecil, saat mengiringi pemakaman dua jenazah menuju pusara, kemarin. Keberadaan dua rumah duka korban Ryan ini, yang sama-sama mempunyai ukuran 36 ini, berubah seketika saat prosesi peyerahan jenazah. Pihak petugas yang ikut mengawal jenazah pun sempat dibuat repot saat menurunkan jenazah dari mobil, lantaran kelurga korban sudah tak kuasa menahan tangis sembari menarik peti mati. Beberapa pelayatpun tercengang berjajar, di antara gang sempit yang hanya bisa di lalui motor itu. Meski deretan kursi sudah sejak pagi disiapkan oleh pihak perangkat desa yang ikut membantu proses pemakaman kedua jenazah. Namun, setidaknya gang sempit itu menjadi satu saksi tersendiri dari pemakaman kedua korban sang pria gemulai asal Maijo itu. Jenazah Zainul Abidi...