Langsung ke konten utama

Postingan

Ah….tak mungkin aku bisa melakukannya. Selama hati nurani ini tetap tak terima.

Setelah mengkuti prosedur selama dua hari itu. Aku tetap tidak dapat tidur. Hati kecil serasa berat diajak kompromi. Aku masih merasa bimbang meninggalkan duniaku. Meninggalkan payung yang menuntunku selama dua tahun terakhir ini. Meski rasa kagum itu ada saat melihat beberapa postur tinggi-tegap membawa kamera besar. lengkap dengan alat. Aku masih bimbang, meninggalkan pijakanku sekarang. Entah karena gengsi mungkin, jika aku jadi diterima dan bekerja di salah satu stasiun yang buatku tak begitu mendidik. Ah….tak mungkin aku bisa melakukannya. Selama hati nurani ini tetap tak terima. Bagamana tidak, sejak aku melihat dan sedikit mengetahui apa itu jurnalisme. Aku jadi merasa anti pati dengan format televisi itu. Tiap hari yang ditayangkan hanya acara-acara g jelas, mistis dan terkesan hanya menayangkan dunia-dunia eforia, meski ada sedikit muatan human interes nya. Selain itu, program berita yang disajikan juga tak asik didengar. Banyak yang tidak jelas dan terlalu bombastis...

Andai Ada Yang Merasa Malu Menjadi Seorang Wartawan!@!!

Performa wartawan yang biasa terkenal dengan kegagahannya, pertanyaan tajamnya, serta dengan bermodalkan notes dan kamera dikala berada di depan nara sumber, baik artis, presiden sampai seorang petani maupun pengemis. Torehan tintanya ternyata mampu untuk mengubah sejarah dan mengubah roda kehidupan sosial. Seperti jaman Budi Oetomo,, Yang arogan menjadi persuasif dan demokratis, yang kasar menjadi lembut dan pejabat korup bisa menjadi takut dan tunduk dengan wartawan. Atas itulah, maka orang yang biasa berprofesi sebagai wartawan menjadi tak pernah bisa nyenyak tidur. Baik dari pejabat setingkat lurah, camat, mantri polisi, pasti akan merasa risih terhadap wartawan jika salah satu dari mereka tak bekerja dengan benar mengurusi rakyatnya. Oleh sebab itu, sungguh sangat disayangkan pabila torehan tintanya yang sangat diharapkan jutaan masyarakat, ternyata membangkitkan amarah dan menimbulkan perpecahan serta permusuhan antar sesama. Lantaran dipicu oleh tidak jelinya seroang wartawan me...

Lagi Kebebasan Demokrasi Tercoreng

Sipil Bersenjata Bungkam Media!!! Kriminalisasi terhadap insan pers kembali terjadi, menyusul dikeluarkannya kritik yang mengarah pada kinerja Kapolda Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Irjen Pol Sisno Adiwinoto. Bahkan, buntut dari hal itu, seorang wartawan di Makassar ditetapkan sebagai tersangka lantaran telah dituding mencemarkan nama baik. Status tersangka itu ditetapkan kepada wartawan Makassar bernama Upi Asmaradhana. Penetapan status tersebut berdasarkan surat panggilan terhadap Upi untuk menjalani pemeriksaan di Mapolda Sulselbar. “Upi Kamis 13 November dipanggil sebagai tersangka,” kata Humaerah, koresponden Kantor Berita Radio (KBR) 68 H, di Makassar, Rabu (12/11/2008). Terkait hal itu, para wartawan di Makassar langsung mereaksi melakukan aksi solidaritas. Mereka mengenakan pakaian serba hitam saat melakukan peliputan. Seperti yang dilakukan oleh sejumlah wartawan saat meliput di depan kampus Universitas Negeri Makassar (Unem). Selain memakai pakaian serba hitam, mereka...

Khofifah Catat Sejarah Menjadi Gubernur Jatim

Caption : Kofifah bersama keluarga dan cawagub Mudjiono serta beberapa tim KaJi lainnya, sedang memantau tayangan televisi menganai hasil penghitungan cepat pilgub putaran 2 di kediamannya. Tak disangka, Mantan Mentri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur, Khofifah Indar Parawansa akhirnya mampu mengukir sejarah baru sebagai gubernur perempuan pertama di wilayah Jawa Timur (Jatim). Bahkan Khofifah bersama pasangannya, Cawagub Mudjiono, berhasil unggul dalam penghitungan cepat (quick count) hasil Pilgub Jatim yang dilakukan sejumlah lembaga survei independen, Selasa (4/11) kemarin. Berdasarkan hasil penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survey Indonesia (LSI) atas 99% suara yang masuk, rival Ka-Ji, yakni pasangan Soekarwo-Saifulloh Yusuf (KarSa) memperoleh 49,48% suara, sedang Ka-Ji memperoleh 50,52% suara. Begitu pula Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Danny JA dengan suara masuk 99,75%, Ka-Ji mendapat 50,76% suara, sedang KarSa 49,24% suara, dan Lembaga Survei Nasional (LSN) ...

Kapolda Akui Salah Tangkap

SURABAYA — Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) mengaku salah tangkap, setelah memastikan belum ada kaitan antara Kemat cs dengan dua tersangka Rudi Hartono dan Jhoni Kristanto dalam kasus pembunuhan Fauzin Suyanto. “Kami belum menemukan ada kaitan antara Kemat dengan Rudi dan Jhoni,” kata Kepala Polda (Kapolda) Jatim Irjen Herman Suryadi Sumawiredja di Surabaya, Jumat (24/10). Meskipun tidak secara tegas mengakui adanya salah tangkap, namun Kapolda menyatakan kasus pembunuhan Fauzin tidak ada kaitannya dengan kasus yang menimpa Kemat cs. Menurut Kapolda, hingga kini Polda Jatim masih menganggap hanya dua tersangka yang terlibat dalam kasus pembunuhan Fauzin.Keduanyapun masih diperiksa secara intensif di kantor Polda Jatim, termasuk saksi-saksi yang mengetahui kejadian tersebut. “Perkembangan terakhir tim penyidik telah menemukan sebuah besi yang didiuga dijadikan alat membunuh Fauzin,” ujar Herman. Adanya salah tangkap juga semakin kuat karena sejumlah anggota polisi di jajara...

Pembunuh Fauzin Dicemooh

‘Banci Aja Mau Jadi Artis!’ JOMBANG - Polda Jatim menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Fauzin Suyanto di kebun tebu Desa Braan, Desa/Kec. Bandar Kedungmulyo, Jombang, Kamis (23/10) kemarin. Langkah ini untuk mencocokkan pengakuan para tersangka yaitu Rudi Hartono alias Rangga dan Joni Irwanto, dengan fakta di lapangan. Pantauan di lokasi rekonstruksi kasus ini, kedua tersangka tiba dikawal ketat puluhan petugas kepolisian. Rekaulang dipimpin Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Susanto. Terlihat pula ratusan warga antusias menyaksikan proses rekonstruksi. Namun mereka tidak bisa mendekat ke lokasi karena polisi menutup akses masuk menuju kawasan persawahan itu. Warga hanya berkumpul di sepanjang Jalan Raya Kujang, Jombang. Lokasi rekonstruksi yang berjarak 50 meter dari jalan raya itu sekarang berubah menjadi kebun jagung. Bukan lagi kebun tebu seperti saat dilakukan pembunuhan pada 29 September 2007 lalu. Saat rekonstruksi, Rudi warga Dusun Purworejo Desa Karangpakis Kec. Purw...